Breaking News

Blogger templates

Blogroll

Sunday, October 27, 2013

Keutamaan Bersabar Ketika Dicaci

SUATU HARI, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bertandang ke rumah Abu Bakar Ash-Shidiq. Ketika bercengkrama dengan Rasulullah, tiba-tiba datang seorang Arab Badui menemui Abu Bakar dan langsung mencela Abu Bakar. Makian, kata-kata kotor keluar dari mulut orang itu. Namun, Abu Bakar tidak menghiraukannya. Ia melanjutkan perbincangan dengan Rasulullah. Melihat hal ini, Rasulullah tersenyum.

Kemudian, orang Arab Badui itu kembali memaki Abu Bakar. Kali ini, makian dan hinaannya lebih kasar. Namun, dengan keimanan yang kokoh serta kesabarannya, Abu Bakar tetap membiarkan orang tersebut. Rasulullah kembali memberikan senyum.

Semakin marahlah orang Arab Badui tersebut. Untuk ketiga kalinya, ia mencerca Abu Bakar dengan makian yang lebih menyakitkan. Kali ini, selaku manusia biasa yang memiliki hawa nafsu, Abu Bakar tidak dapat menahan amarahnya. Dibalasnya makian orang Arab Badui tersebut dengan makian pula. Terjadilah perang mulut. Seketika itu, Rasulullah beranjak dari tempat duduknya. Ia meninggalkan Abu Bakar tanpa mengucapkan salam.

Melihat hal ini, selaku tuan rumah, Abu Bakar tersadar dan menjadi bingung. Dikejarnya Rasulullah yang sudah sampai halaman rumah. Kemudian Abu Bakar berkata, "Wahai Rasulullah, janganlah Anda biarkan aku dalam kebingungan yang sangat. Jika aku berbuat kesalahan, jelaskan kesalahanku!"

Rasulullah menjawab, "Sewaktu ada seorang Arab Badui datang dengan membawa kemarahan serta fitnahan lalu mencelamu, kulihat tenang, diam dan engkau tidak membalas, aku bangga melihat engkau orang yang kuat mengahadapi tantangan, menghadapi fitnah, kuat menghadapi cacian, dan aku tersenyum karena ribuan malaikat di sekelilingmu mendoakan dan memohonkan ampun kepadamu, kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Begitu pun yang kedua kali, ketika ia mencelamu dan engkau tetap membiarkannya, maka para malaikat semakin bertambah banyak jumlahnya. Oleh sebab itu, aku tersenyum. Namun, ketika kali ketiga ia mencelamu dan engkau menanggapinya, dan engkau membalasnya, maka seluruh malaikat pergi meninggalkanmu.

Hadirlah iblis di sisimu. Oleh karena itu, aku tidak ingin berdekatan dengan kamu aku tidak ingin berdekatan dengannya, dan aku tidak memberikan salam kepadanya."

Setelah itu menangislah Abu Bakar ketika diberitahu tentang rahasia kesabaran bahwa itu adalah kemuliaan yang terselubung.

----

SubhanAllah...

"Maka bersabarlah engkau dengan kesabaran yang baik." (QS.Al-Ma’arij : 5)
Read more ...

Saturday, October 26, 2013

Elevator Pitch ala Sandiaga Uno

Cerita ini sudah mengendap di memori saya dan baru sekarang sempat menuliskannya di sini.
Saya dapatkan cerita ini saat menghadiri sharing Pak @sandiuno di @tdabali di sela-sela kesibukan beliau menjadi salah satu nara sumber di perhelatan APEC 2013 di Bali.

Elevator pitch, ada yang tahu artinya?
Kira-kira seperti ini maksudnya: sebuah percakapan singkat, biasanya di dalam lift, dengan seseorang yang “penting”, bisa calon investor, calon pembeli dan sebagainya.
Pertemuan ini biasanya langka dan tanpa sengaja. Kesempatan ini harus dimanfaatkan dengan berbicara seefektif dan efisien mungkin, supaya pesannya tepat sasaran dan dapat respon langsung.
Nah, kesempatan inilah yang didapat oleh Pak Sandy saat di awal bisnisnya sebagai konsultan keuangan perusahaan yang belum dikenal alias masih “anak bawang” setelah ia di-PHK dari perusahaan tempat ia bekerja.

Salah satu target incarannya adalah Pak Dahlan Iskan (@iskan_dahlan), pemilik grup Jawa Pos.
Pak Sandy mempelajari bahwa salah satu anak perusahaan Pak Dahlan sedang bermasalah dan butuh restrukturisasi. Tantangannya adalah bagaimana caranya supaya bisa bertemu dan berbicara dengan Pak Dahlan, menyampaikan pesan dan diterima.

Kesempatan itu akhirnya didapat, saat Pak Dahlan bergegas menuju mobilnya.
Pak Sandy mengejar beliau dan minta waktu untuk bertemu dan berbicara.
“Maaf, saya tidak bisa memenuhi permintaan anda. Tapi kalau anda mau, ada waktu sekitar 8 menit sekarang sambil saya menuju ke parkiran mobil”, kira-kira demikian jawaban Pak Dahlan Iskan.
Bagaimana caranya agar pesannya sampat tepat sasaran dan mendapat respon positif dalam waktu menit? Itulah tantangan yang harus dihadapi Pak Sandy ketika itu.
“Pak, salah satu perusahaan Bapak ABC menurut saya sedang dalam masalah dan kami bisa membantu melakukan restrukturisasi dalam 3 bulan saja. Bapak hanya bayar jasa kami kalau sukses, kalau gagal tidak usah bayar alias gratis”, demikian kira-kira penawarannya.
Penawaraan yang cukup sensasional dan sulit ditolak.
“Tidak usah bayar?, Ya sudah, coba saja”, jawab Pak Dahlan.
Singkat cerita, penawaran “elevator pitch” itu sukses dan pekerjaan itu diselesaikan Pak Sandy dan timnya dalam 3 bulan dengan sukses.

Uang jasanya yang tidak seberapa ketika itu bahkan masih di simpan Pak Sandy di lacinya. Uang itu kadang-kadang dilihatnya sebagai penyemangat di saat ia sedang “down”.
Kita tidak mengira orang sesukses Pak Sandy ternyata punya kisah perjalanan yang tidak mudah di awalnya.

NB: saya atas nama komunitas TDA sangat berterima kasih atas perhatiaan dan waktu Pak Sandy yang telah diberikan kepada TDA selama ini. Kesempatan emas di Bali ini sebenarnya bukan atas permintaan kami, tapi Pak Sandy sendiri yang menawarkan melalui
Pak @iimrusyamsi karena ada waktu luang selama di Bali.

sumber: http://roniyuzirman.wordpress.com/2013/10/25/elevator-pitch-ala-sandiaga-uno/ 
Read more ...

Monday, October 7, 2013

Kisah Semangkuk Soto

Seorang anak tampak tersaruk-saruk menyusuri jalanan. Hatinya kesal. Dia merasa seharian ibunya tak pernah mengerti dirinya. Puncaknya ketika dia dimarahi oleh ibunya. Dia memutuskan untuk meninggalkan rumah. Masalah muncul ketika perutnya berontak minta diisi. Dari warung ke warung, dia meminta belas kasih sang pemilik, namun tak bersambut. 
Hingga sampailah ke sebuah warung soto, tak besar, namun senyum pemiliknya membuat si anak ini merasa punya harapan. Kata sang pemilik, "nikmatilah siang mu ini. Aku yang traktir." 

Betapa girangnya anak itu. Sekejap ludes semangkuk soto itu. Lalu dengan mengucap beribu pujian dan terimakasih, dia bilang,"tak pernah kurasakan soto seenak ini, juga tak pernah kujumpai orang sebaik Bapak". Dengan senyum, pemilik warung itu menjawab,"nak, semangkuk soto dariku ini tak pernah bisa menggantikan bubur yang dibuat ibumu saat kau kecil, juga masakan kesukaanmu yang dia buatkan agar kau tumbuh sehat dan besar. Ingatlah nak, jangan kau lupakan kebaikan orang-orang terdekat yang kau sayangi, hanya karena sebuah kebaikan yang lain".

Segera bergegas anak itu pulang. Disadarinya betapa ibunya telah memberikan segalanya selama ini. Di tengah amarahnya sendiri, semuanya menguap tak berbekas. Begitu kakinya menginjak rumah, menghambur lah ibunya yang matanya memerah usai menangis. Dengan suara lembut dan menenangkan,"maafkan ibu ya nak.. Kemana saja kau pergi. Tak apa-apa kan Nak? Ayo, sini. Ibu masakkan makanan kesukaanmu." Meleleh air mata anak itu. Dia sadar berbuat tidak adil kepada ibunya. Dipeluk erat Ibunya, terucap permohonan maaf dan rasa terima kasih yang selama ini sering lupa terucap. Terimakasih Ibu..

-sumber: harian rakyat merdeka | Rabu, 2 Oktober 2013 
Read more ...
Designed By Blogger Templates