Seorang
anak tampak tersaruk-saruk menyusuri jalanan. Hatinya kesal. Dia merasa
seharian ibunya tak pernah mengerti dirinya. Puncaknya ketika dia
dimarahi oleh ibunya. Dia memutuskan untuk meninggalkan rumah. Masalah
muncul ketika perutnya berontak minta diisi. Dari warung ke warung, dia
meminta belas kasih sang pemilik, namun
tak bersambut.
Hingga sampailah ke sebuah warung soto, tak besar, namun
senyum pemiliknya membuat si anak ini merasa punya harapan. Kata sang
pemilik, "nikmatilah siang mu ini. Aku yang traktir."
Betapa girangnya
anak itu. Sekejap ludes semangkuk soto itu. Lalu dengan mengucap beribu
pujian dan terimakasih, dia bilang,"tak pernah kurasakan soto seenak
ini, juga tak pernah kujumpai orang sebaik Bapak". Dengan senyum,
pemilik warung itu menjawab,"nak, semangkuk soto dariku ini tak pernah
bisa menggantikan bubur yang dibuat ibumu saat kau kecil, juga masakan
kesukaanmu yang dia buatkan agar kau tumbuh sehat dan besar. Ingatlah
nak, jangan kau lupakan kebaikan orang-orang terdekat yang kau sayangi,
hanya karena sebuah kebaikan yang lain".
Segera
bergegas anak itu pulang. Disadarinya betapa ibunya telah memberikan
segalanya selama ini. Di tengah amarahnya sendiri, semuanya menguap tak
berbekas. Begitu kakinya menginjak rumah, menghambur lah ibunya yang
matanya memerah usai menangis. Dengan suara lembut dan
menenangkan,"maafkan ibu ya nak.. Kemana saja kau pergi. Tak apa-apa kan
Nak? Ayo, sini. Ibu masakkan makanan kesukaanmu." Meleleh air mata
anak itu. Dia sadar berbuat tidak adil kepada ibunya. Dipeluk erat
Ibunya, terucap permohonan maaf dan rasa terima kasih yang selama ini
sering lupa terucap. Terimakasih Ibu..
-sumber: harian rakyat merdeka | Rabu, 2 Oktober 2013

No comments:
Post a Comment